Gugus Depan 17-18 Mandau Talawang: Penyakit Dalam Pendakian dan Cara Mengatasinya

PHOTO 17-18 MANDAU TALAWANG

                       

Penyakit Dalam Pendakian dan Cara Mengatasinya

Aktivitas petualangan di musim hujan, seperti pendakian gunung otomatis akan meningkatkan derajat bahayanya akibat gejala alam ini. Apalagi bila musim liburan tiba. Seperti tak mau kehilangan kesempatan emas, banyak pendaki gunung tetap nekat menyalurkan hobi petualangannya tanpa mempedulikan kondisi cuaca.

Ancaman Hypothermia


Cuaca di gunung memang tidak bisa ditebak. Apalagi pada bulan-bulan basah. Meski gunung di Indonesia rata-rata hanya berketinggian sekitar 3.000 m dpl, tetapi pada musim hujan, badai gunung yang menyertai hujan sering menyerang dan mampu menurunkan suhu udara hingga mencapai di bawah titik beku atau di bawah 0 derajat celcius.
Bagi para pendaki gunung yang tidak siap dengan fisik, mental serta perlengkapan yang memadai, kondisi ini bisa menjadi sebuah malapetaka besar. Karena suhu udara sedingin itu, merupakan kondisi yang sangat asing bagi tubuh manusia, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia.

Hypothermia merupakan salah satu gejala penyakit di ketinggian yang sering menyerang para pendaki gunung. Bahkan di Indonesia, hypothermia menduduki peringkat teratas sebagai ancaman maut serta “hantu” pencabut nyawa paling kejam bagi para pendaki gunung. Lalu apa dan bagaimana sebenarnya hypothermia itu hingga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan bagi para pendaki gunung?

Penyakit hypothermia merupakan satu dari sejumlah penyakit di ketinggian seperti mountain sickness atau hipoksia (kekurangan pasokan oksigen ke tubuh), edema baru dan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Hypothermia sering menyerang para pendaki gunung yang kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin atau penghangat badan seperti sweater, jaket, kaos kaki, balaclava, sarung tangan, tenda dsb.

Tetapi kadang juga kerap terjadi, pendaki gunung yang sudah melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin tetap saja terkena hypothermia. Hal ini biasanya terjadi karena seluruh pakaian yang dikenakan telah basah kuyup diterpa hujan. Pendaki ini biasanya kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan air atau hujan seperti rain coat, ponco (jas hujan), payung atau tenda yang memadai.

Pakaian yang basah akan mengurangi insulasi (kemampuan untuk menahan panas badan) sampai 90%. Kasus hypothermia yang disebabkan pakaian basah inilah sebenarnya yang paling sering meminta korban pendaki gunung di Indonesia.

Preventif Hypothermia

Seperti penyakit-penyakit gunung lainnya, hypothermia merupakan faktor bahaya yang sebenarnya dapat diperhitungkan sebelum melakukan kegiatan pendakian atau lebih dikenal dengan istilah subjective danger. Seorang pendaki yang sudah mempersiapkan fisik maupun perlengkapannya akan lebih mudah menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin akan muncul.

Suatu hal yang harus diingat, janganlah memulai persiapan itu ketika gejala-gejala penyakitnya muncul di gunung. Persiapan itu harus sudah dimulai sejak masih di rumah, yakni dengan memiliki pengetahuan tentang bahaya yang potensial muncul, cara penanggulangan apa saja yang dibutuhkan.

Kecuali mempersiapkan diri dengan perlengkapan penahan dingin dan anti air berkualitas baik, ada beberapa hal pokok mendasar yang perlu diketahui mengenai hypothermia. Selalu menjaga suhu tubuh pada suhu normal pada kisaran 37 derajat celcius, merupakan hal utama untuk menghindari hypothermia.

Sebenarnya secara alamiah tubuh manusia akan selalu menjaga panasnya dengan beberapa cara, salah satunya melalui pencernaan makanan. Makanan yang masuk ke dalam tubuh menghasilkan panas melalui oksidasi, dan ini terutama penting bagi tubuh ketika sedang beristirahat. Panas yang berasal dari pencernaan makanan ini akan dihasilkan lebih banyak lagi oleh tubuh ketika sedang bergerak.

Penanganan Hypothermia

Orang yang terkena hypothermia akan menunjukkan gejala-gejala sesuai dengan tingkat penurunan suhu tubuh. Kehilangan kesadaran, misalnya akan menyebabkan apa yang disebut dengan paradocixal feeling of warmth. Pada kondisi ini, penderita hypothermia justru akan merasakan hal yang sebaliknya, yaitu rasa panas lalu tanpa sadar seluruh pakaian ditanggalkan sendiri. Sehingga amat sering dijumpai penderita atau korban hypothermia meninggal ditemukan dalam kondisi telanjang bulat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menangani penderita hypothermia. Pertama adalah mencari dan memindahkan korban ke tempat yang kering dan terlindung dari angin dan air. Kemudian sebelum diberikan minuman yang hangat dan manis, usahakan baju basah korban diganti dengan yang kering. Lalu, masukkan korban ke dalam sleeping bag kering yang sebelumnya telah dihangatkan dengan cara memasukkan tubuh telanjang beberapa orang sehat (bersuhu normal).

Tindakan selanjutnya adalah, memasukkan botol berisi air hangat ke dalam sleeping bag untuk membantu memanaskan tubuh korban. Kalau sleeping bag cukup lebar, lakukan transfer panas tubuh orang sehat ke korban dengan cara dua orang ikut masuk ke dalam sleeping bag dan mengapit korban. Usahakan membuat api di kedua sisi korban, dan jangan biarkan korban hypothermia tertidur.

Tidur akan membuat penderita hypothermia kehilangan kesadaran dan tak mampu lagi memanaskan tubuhnya secara alami. Biarkan dia mengigil dan segera beri minuman hangat dan makanan manis setelah korban sadar. Hidrat arang dalam makanan itu merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga.

Penyakit Akut Gunung

Secara hukum fisika, daerah pegunungan sangatlah berbeda kondisinya dibandingkan dengan daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian tempat ini berakibat munculnya perbedaan kondisi lingkungan setempat. Perbedaan yang sangat esensial misalnya berupa tekanan udara. Tekanan udara di dataran rendah lebih tinggi dibanding dengan pegunungan (dataran tinggi). Semakin tinggi suatu tempat semakin maka rendah tekanan udaranya. Hal ini berhubungan dengan faktor adanya gaya gravitasi bumi yang ditimbulkan.

Gravitasi di dataran rendah menjadi lebih tinggi karena kedekatannya dengan pusat bumi, sedangkan semakin daerah itu tinggi maka semakin pula menjauhi pusat bumi. Jauhnya dengan pusat bumi berakibat gaya gravitasinya semakin lemah. Lemahnya gravitasi ini memunculkan tekanan udara menjadi semakin lemah pula. Tekanan udara yang rendah ini berakibat kandungan oksigen pada lingkungan udara setempat menjadi rendah.

Kandungan oksigen di lingkungan tempat tinggi (gunung) berdampak terhadap kondisi fisiologis seorang pendaki gunung menjadi terganggu. Dampak rendahnya oksigen lingkungan ini bagi pendaki gunung mula-mula dirasakan berupa sesak nafas, selanjutnya yang dirasakan dapat pula berupa adanya semacam halusinasi yang diakibatkan mulai berkurangnya oksigen yang menuju ke otak.

Keadaan semacam ini sering membawa akibat yang tidak di inginkan
pada para pendaki gunung. Gangguan tersebut terumatama mulai terasa pada
ketinggian 2000 meter dari atas permukaan laut. Tetapi timbulnya
reaksi-reaksi itu tergantung kepada daya tahan dan daya pengesuaian
perorangan.

Jika hal ini terus berlanjut muncul efek yang sangat berbahaya yaitu hilangnya ingatan (amnesia) akibat hipoksia otak, kondisi ini membawa dampak tersesatnya seorang pendaki karena ingatan terhadap medan pendakian menjadi hilang, kemudian muncul pula halusinasi yang dapat berakibat seseorang bisa tanpa sadar menuju daerah yang berbahaya yang biasanya berupa jurang.

Kondisi tersebut di atas bertambah berat karena timbul dampak lain dari rendahnya oksigen lingkungan ini, yang berupa meningkatnya jumlah eritrosit dengan cepat (eritropoeisis) sehingga terjadi polisitemia (kadar eritrosit di atas harga normal). Polisitemia ini membawa pengaruh munculnya viskositas (kekentalan darah) meningkat, sehingga aliran darah menjadi lambat dan tekanan darah menjadi meningkat serta frekuensi denyut jantung meningkat, sehingga pendaki gunung merasa berdebar-debar jantungnya serta memperparah kondisi hipoksia otak.

Keadaan semacam ini biasanya dialami oleh seseorang yang mendaki gunung dengan tidak memperhatikan adaptasi gradual (bertahap) yaitu dengan cara beristirahat sesaat di pos-pos peristirahatan. Pos peristirahatan ini selain berfungsi untuk memulihkan kondisi kelelahan juga berfungsi untuk mengadaptasikan fisiologis tubuh terhadap perubahan lingkungan secara bertahap sehingga tubuh tidak kaget terhadap perubahan ini dan reaksi tubuh akan memberikan respons yang tidak akut (sekonyong-konyong mendadak).

Jika tahap adaptasi gradual ini ditempuh dengan baik maka resiko mountain sickness ini tidak akan terjadi dan kegiatan mendaki gunung benar-benar mengasyikkan.

GEJALA MOUNTAIN SICKNESS

Penderita mula-mula merasa pusing, sakit kepala, letih, mengantuk,
kedinginan, mual dan muntah-muntah, pucat, dan sesak nafaas. Kemudian di
ikuti perasaan panas, gelisah, kuping berdenging, susah berkonsentrasi
dan susah

MOUNTAIN SICKNESS akut yang di sertai kelainan paru-paru
Gangguan yang serius biasanya terjadi pada ketinggian 3000 meter atau
lebih. Gejalanya muncul 6-36 jam sesudag tiba di tempat tersebut.

Tanda-tandanyanya :
- batuk -batuk kering
- Sesak nafas juga pada waktu istirahat
- dada serasa tertekan
- mungkin batuk darah

Denyut nadi makin cepat, penderita nampak pucat dan membiru, kemudian
pingsan.

PERTOLONGAN YANG DAPAT DILAKUKAN

Pada umumnya dengan beristirahat dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya, gejala-gejala akan menghilang dalam waktu 24-48 jam. Bila perlu beri pernafasan buatan Tetapi bila tidak berhasil penderita harus di bawa kembali ketempat yang lebih rendah. dan segera bawa ke dokter terdekat.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuliskan Nama